0

Cara Mengidentifikasi Bid’ah

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii membuat klasifikasi bid’ah sebagaimana dilansir dalam beberapa kitab. Beliau menyatakan:

قال الشافعي رضي الله عنه المحدثات من الأمور ضربان أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا فهذه محدثة غير مذمومة
“Hal-hal yang baru ada dua macam. Pertama, hal baru yang berbenturan dengan Al-Qur’an, Hadits, pendapat shahabat atau konsensus ulama, inilah yang masuk kategori bidah yang sesat. Kedua, hal-hal baru yang baik dan tidak berseberangan dengan salah satu sumber hukum tersebut maka hal itu tidak bisa disebut tercela.
Pandangan ini tentu tidak salah, apalagi muncul dari seorang ulama pengagas mazhab yang keilmuannya tak bisa dibandingkan dengan kelompok spesialis bid’ah. Karena memang, sabda Rasulullah saw كل بدعة ضلالة yang kerapkali dibuat senjata pamungkas oleh para spesialis bid’ah, secara bahasa memang berbentuk umum, tetapi yang dikehendaki adalah bentuk khusus (العام الذي أريد به الخاص ).
Ini sama dengan firman Allah swt yang menjelaskan penciptaan segala sesuatu bermula dari air, sebagaimana berikut:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi merupakan satu-kesatuan yang kemudian Aku pecahkan keduanya, dan Aku ciptakan dari air segala sesuatu, apakah mereka tidak beriman”.
Terkait ayat ini Imam Fakhruddin ar-Razi berkomentar seperti ini:
اللفظُ وإن كان عَاماً إلا أَنَّ القَرِيْنةَ المُخَصِّصَةَ قَائِمَةٌ، فإنَّ الدَليلَ لا بُدَّ وأن يكونَ مُشَاهَداً مَحْسُوساً لِيكونَ أَقْرَبَ إلى المَقْصُودِ وبهذا الطريقِ تَخْرُجُ عنهُ المَلائكةُ والجِنُّ وَآدَمُ وَقِصَّةُ عيسَى وعليهم السلامُ
“lafal tersebut (كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ) sekalipun berbentuk umum, hanya saja ada indikator khusus yang jelas, karena sebuah dalil itu harus konkret, tidak kasat mata agar mendekati terhadap kandungan yang dimaksud. Dengan demikian, terkecuali dari penciptaan dari air adalah para malaikat, para jin, Nabi Adam dan burung yang ada dalam cerita Nabi Isa as”.
Dengan begitu, tidak semua kalimat kullun bermakna semuanya yang mencakup keseluruhan komponen, terbukti dalam ayat tersebut ada makhluk hidup yang tidak terbuat dari air seperti malaikat dari cahaya, jin dari api, dan Nabi Adam dari tanah. Begitu juga dengan kata kullun dalam redaksi hadits yang dijadikan jurus andalan oleh para spesialis bid’ah. Dengan alasan inilah, para ulama membagi bid’ah ke dalam dua kategori, bahkan Izzuddin bin Abdissalam membaginya sesuai hukum yang ada, yakni wajib, haram, sunah, makruh dan mubah.
Dari sini kemudian para ulama mengatakan bahwa pengertian hadits “Setiap bid’ah itu sesat” dikembalikan pada persoalan hukum meyakini suatu amalan sebagai ibadah padahal tidak termasuk ibadah, bukan mutlak semua hal yang baru, sebab bisa saja hal baru itu ada landasan hukumnya dalam agama, atau paling tidak ada contoh parsialnya (furu’) sehingga bisa kita analogikan dengannya.
Kemudian bagaimana cara mengetahui status perkara baru atau bid’ah tersebut, apakah termasuk dalam kategori baik atau sebaliknya. Dalam hal ini Syekh Zaruq sudah memberikan formulasi atau rumusan baku dalam menimbang semua itu. Beliau mengatakan:
Pertama, melakukan riset terhadap perkara baru tersebut. Jika di dalamnya ada muatan prinsip-prinsip syariat serta ada landasan asalnya maka hal itu sebenarnya bukanlah bid’ah. Jika semua itu tidak ada, maka jelas hal baru itu bid’ah yang sesat. Kemudian, kalau dalam hal baru itu ada kesamaran dalil maka terlebih dahulu diteliti secara seksama lalu diberi status sesuai dengan unsur yang dominan di dalamnya.

Kedua, mempertimbangkan kaidah para imam dan ulama salaf. Jika ternyata hal baru tersebut dari segala aspeknya bertentangan dengan kaidah itu maka harus diamputasi, tetapi kalau relevan dengan landasan dasar-dasar yang ditetapkan mereka, maka tidak masalah.
Sehubungan dengan ini ada sebuah kaidah umum yang bisa kita jadikan acuan dalam memberikan status pada setiap hal yang baru.
إنَّمَا عَمِلَ بهِ السَّلَفُ وَتَبِعَهُم الخَلَفُ لَا يَصِحُّ أن يكونَ بِدْعَةً ولا مَذْمُومًا وَمَا تَرَكُوْهُ بَكُلِّ وَجْهٍ وَاضِحٍ لا يَصِحُّ أن يكونَ سُنَّةً وَلَا مَحْمُودًا
“Sesungguhnya setiap perbuatan yang dilakukan ulama salaf yang diikuti oleh ulama setelahnya tidak bisa disebut bid’ah dan tercela, sebagaimana tiap sesuatu yang sama sekali tidak dilakukan oleh mereka, tidak bisa divonis sebagai sunah dan terpuji.

Ketiga, hendaklah setiap perbuatan ditakar dengan pertimbangan hukum, wajib, haram, sunah, makruh, mubah dan khilaf aula. Sehingga setiap hal baru yang include dalam salah satu hukum di atas, bisa diidentifikasi dengan status hukum itu, sementara yang tidak bisa dimasukkan, maka itulah yang sejatinya bid’ah.
Dengan prinsip-prinsip inilah maka kita bisa melakukan identifikasi terhadap hal-hal baru yang belum pernah dilakukan pada masa awal Islam, selanjutnya kita bisa memberikan status terhadap hal baru itu, apakah masuk dalam frame baik yang boleh dilakukan, atau buruk yang harus segera ditinggalkan. Bukan grusa-grusu langsung menvonis sesat. Apalagi ada hadits begini:
ما تركته لكم فهو عفو
“Apa yang aku tinggalkan pada kalian (tanpa penjelasan) maka hal tersebut adalah seuatu yang dimaklumi”.

Oleh: Moh. Afifuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simple Order
Order cepat tanpa ribet langsung melalui form whatsapp.
Fast Respons
Kami siap melayani dan merespons order Anda dengan cepat.
Quality Products
Kami hanya menjual produk yang benar benar bermutu dan berkualitas.
Temukan kami di :

Kunjungan

0004289
Visit Today : 10
Visit Yesterday : 17
This Month : 366
Total Visit : 4289

Pembayaran

Pengiriman

Jam Operasional

Sabtu - Kamis ( 08.00 s/d 15.00 )
Hari Minggu Buka
Hari Libur Islami dan Nasional TUTUP - Sabtu ( 07.00 s/d 15.00 )
Butuh Bantuan ?

Keranjang Belanja

×

Ups, Belum ada barang di keranjang belanja Anda.

Belanja Sekarang !

Form Bantuan Whatsapp!

×