0

Pilih Mana, antara Cinta dan Pilihan Orang Tua

 

Jodoh memang persoalan yang misterius. Kadang seseorang sudah jauh-jauh menempuh perjalanan dalam mencari tambatan hatinya, ternyata dia malah tetangganya sendiri. Tak jarang juga yang telah mengikat tali pertunangan, ujung-ujungnya gagal karena ada aral melintang. Lebih menyedihkan lagi, orang yang sudah lama diidam-idamkan, ternyata tak ada restu dari kedua orang tua, malah orang tua memiliki calon sendiri untuk anaknya.
Sehubungan dengan ini, tak jarang ada anak yang memang pasrah penuh kepada kedua orang tuanya. Ia berpikir bahwa pilihan orang tua tetaplah yang terbaik bagi dirinya. Ada juga yang masih mempertimbangkan pilihan orang tua dengan alasan karena perjalanan rumah tangga bukan hanya sehari dua hari, bahkan ada yang sampai menolak mentah-mentah tanpa alasan sedikitpun.
Di sinilah kemudian muncul persoalan, bagaimana jika seorang ayah memaksa anak gadisnya yang sudah dewasa untuk menikah dengan pilihan sang ayah karena dipandang sepadan (kufu’), padahal di sisi lain si gadis sudah punya pilihan lain yang ia anggap juga layak. Bagaimana juga status anak yang menolak dijodohkan oleh orang tuanya, apakah ia termasuk melakukan tindakan menyakiti orang tua.
Kasus-kasus seperti ini kerap kali terjadi dan bukan barang baru. Terlebih pada masa sekarang, yang nota bene seorang anak banyak tidak sreg dengan pilihan orang tuanya, hanya segelintir saja yang setuju tanpa banyak pertimbangan. Dalam hal ini sejatinya, selain ada perbedaan ulama, juga ada pengklasifikasian antara anak yang masih perawan/mujbarah dan yang sudah janda/ghairu mujbarah, juga dalam masalah kafaah dari kedua calon antara pilihan orang tua dan anaknya.
Pertama, terkait dengan pilihan calon yang sama-sama selevel dalam segi kafaah-nya dalam Kitab Tuhfatul-Muhtâj dijelaskan sebagai berikut:
وَلَوْ عَيَّنَتْ ) مُجْبَرَةٌ ( كُفُؤًا وَأَرَادَ الْأَبُ ) أَوْ الْجَدُّ الْمُجْبِرُ كُفُؤًا ( غَيْرَهُ فَلَهُ ذَلِكَ ) ، وَإِنْ كَانَ مُعَيَّنُهَا يَبْذُلُ أَكْثَرَ مِنْ مَهْرِ الْمِثْلِ ( فِي الْأَصَحِّ ) ؛ لِأَنَّهُ أَكْمَلُ نَظَرًا مِنْهَا وَالثَّانِي يَلْزَمُهُ إجَابَتُهَا إعْفَافًا لَهَا وَاخْتَارَهُ السُّبْكِيُّ وَغَيْرُهُ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَيَظْهَرُ الْجَزْمُ بِهِ إنْ زَادَ مُعَيَّنُهَا بِنَحْوِ حُسْنٍ أَوْ مَالٍ أَمَّا غَيْرُ الْمُجْبَرَةِ فَيَتَعَيَّنُ مُعَيَّنُهَا قَطْعًا لِتَوَقُّفِ نِكَاحِهَا عَلَى إذْنِهَا
Khusus anak gadis yang masih perawan ada ketentuan sebagai berikut: Pertama, jika pilihan anak dan orang tua sama-sama setara dalam segi kafaah-nya, maka seorang anak dianjurkan menerima calon pilihan orang tuanya. Kendati pun calon pilihan anak akan memberikan maskawin lebih dari mahar pada umumnya. Demikian ini karena orang tua lebih mengerti terhadap kemaslahatan anaknya dibanding anak itu sendiri. Pendapat kedua yang digagas oleh Imam Tajuddin as-Subki lebih mengedapankan pilihan si anak demi menjaga dan menghindari hal-hal yang negatif yang bisa saja terjadi kemudian hari.
Kedua, pendapat dari Imam al-Adzra’i yang menyatakan jika calon dari si anak mempunyai nilai plus dari pilihan orang tuanya, maka sebagai orang tua seyogyanya menuruti kemauan si anak dengan dinikahkan bersama pilihan hatinya. Sedangkan untuk anak yang sudah berstatus janda maka pilihan dia harus dituruti tanpa ada diversitas pandangan dari ulama, dengan alasan karena keabsahan nikahnya masih menunggu rekomendasinya, berbeda dengan yang masih perawan.
Dari sini bisa dipahami, bahwa orang tua selayaknya tidak serta-merta memaksakan kehendaknya kepada anaknya untuk kawin dengan lelaki yang bukan pilihannya. Menurut Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam salah satu kitabnya al-Adab asy-Syar’iyah menyatakan:
ليس للوالدين إلزام الولد بنكاح من لا يريد قال الشيخ تقي الدين رحمه الله تعالى أنه ليس لأحد الأبوين أن يلزم الولد بنكاح من لا يريد وإنه إذا امتنع لا يكون عاقا
“Kedua orang tua tidak seharusnya memaksak anaknya untuk menikahi seseorang yang tidak ia cintai dan ketika anak tersebut menolak maka tidak masuk dalam kategori tindakan menyakiti orang tua”.
Namun demikian, si anak harusnya patuh dan menuruti kemauan orang tua, jika memang orang tuanya telah memilihkan jodoh untuknya, karena pilihan orang tua pasti yang terbaik untuk dirinya dan mereka lebih mengerti terhadap kebutuhan anaknya.
Jika orang tua tetap ngotot ingin mengawinkan anaknya dengan pilihannya sendiri, maka harus memerhatikan beberapa persyaratan yang telah ditetapkan oleh ulama, yakni jelas-jelas tidak ada permusuhan antara si anak dengan walinya, juga antara calon pilihan orang tua dengan anaknya, harus dinikahkan dengan orang yang sepadan dengan anaknya, menggunakan maskawin pada umumnya/mahr mitsil, bakal calon mempelai laki-lakinya tidak masuk kategori orang melarat dan tak mampu membayar mahar mitsil tersebut, tidak menimbulkan efek mudarat dalam perkawinannya, semisal dikawinkan dengan orang yang sudah lanjut usia, atau orang buta dan orang yang disabilitas lainnya.
Syarat-syarat ini kalau tidak dipenuhi, maka selain tidak boleh melanjutkan akad pernikahan juga bisa berdampak terhadap keabsahan nikah tersebut. Persyaratan yang bisa berdampak kepada sahnya pernikahan adalah tidak ada permusuhan antara wali dan anaknya, calon suaminya haruslah yang sepadan, dan harus mampu membayar maskawin seketika itu. Selebihnya adalah persyaratan dalam bolehnya melangsungkan akad nikah saja.
Demikianlah ketentuan-ketentuang yang telah diketuk palu dalam kasus ketika ada perbedaan antara calon dari orang tua dengan anaknya. Mudahnya, orang tua jangan terlalu memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya dalam persoalan rumah tangganya, sebaliknya, seorang anak harusnya patuh kepada kedua orang tuanya. Dan kenyataannya, rumah tangga yang diawali dengan kepatuhan kepada orang tua, lebih langgeng dan sakinah daripada pilihannya sendiri sekalipun ada restu dari orang tua tapi terpaksa.[]

Oleh: Moh. Afifuddin

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Simple Order
Order cepat tanpa ribet langsung melalui form whatsapp.
Fast Respons
Kami siap melayani dan merespons order Anda dengan cepat.
Quality Products
Kami hanya menjual produk yang benar benar bermutu dan berkualitas.
Temukan kami di :

Kunjungan

0004289
Visit Today : 10
Visit Yesterday : 17
This Month : 366
Total Visit : 4289

Pembayaran

Pengiriman

Jam Operasional

Sabtu - Kamis ( 08.00 s/d 15.00 )
Hari Minggu Buka
Hari Libur Islami dan Nasional TUTUP - Sabtu ( 07.00 s/d 15.00 )
Butuh Bantuan ?

Keranjang Belanja

×

Ups, Belum ada barang di keranjang belanja Anda.

Belanja Sekarang !

Form Bantuan Whatsapp!

×